Hari ini aku baru saja menandatangani kelompok tani Mitra Jaya yang ada di Kecamatan Tanah Grogot. Komoditas yang dibudidayakan di sana adalah cabai dan pepaya. Ada banyak pembelajaran dan tentu saja jokes yang mesti disimpan dalam kata-kata untuk hari ini.
Bab Serius tentang Budidaya Cabai
Tema acara hari ini adalah studi tiru, semacam studi banding kali yak bahasa DPR-nya, hehehe. Di sini yang jadi narasumber adalah petani yang memiliki lahan cabai kurang lebih setengah hektar yang sudah jadi semacam percontohan bagi masyarakat petani sekitarnya. Lahannya teramat sangat bersih, warbiasa!
Rasanya baru kali itu aku melihat lahan yang super duper rapi, melebihi kerapian di dalam rumahku sendiri: gak ada rumput, bedengan tertata rapi, selang-selang pun terinstalasi dengan apik dalam barisan yang ciamik. Mak jang, mantap bener dah!
Pak Bukhori yang jadi narasumber menjelaskan tata cara dia berbudidaya cabai mulai dari pemilihan benih sampai dengan pengendalian hama penyakit yang pernah dia lakukan. Seleksi benih perlu dilakukan di awal sebelum mulai menyemai. Setelah semai, bibit cabai yang sudah tumbuh dikepal bersama media tanah dan pupuk kandang dengan perbandingan 1:3.
Setelah pengepalan dilakukan, bibit ditunggu sampai 7-10 hari hingga akarnya tumbuh dan terlihat dari luar kepalan media. Selama 7-10 hari itu, semprot saja media bibitnya dengan air, biar senantiasa lembap dan gak terlalu kering aja.
Setelah olah tanah siap (dengan sanitasi gulma, aplikasi kapur dan pupuk kandang), ini saatnya untuk penanaman. Untuk permulaan, bibit biasanya masih lemah sehingga perlu dilindungi dengan nyaman, sehingga Pak Bukhori menggunakan daun kelapa atau pelepahnya untuk melindungi akar yang masih lemah dan rentan itu. Ck, cabai aja diperlukan dengan penuh cinta, apalagi kamu.
Bab Jokes dan Panen Bersama
Setelah sesi serius, kami melakukan keliling kebun serambi dipersilakan untuk panen buah pepaya. Manusia, sebagai makhluk yang selalu haus dan susah dipuaskan bertanya dengan lantang, “Kalau cabainya boleh sekalian dipanen pak?”
Bapak petani yang baik hati menjawab dengan kocak, “Boleh pak, tapi harus dimakan di tempat.” Kami semua tertawa.
Aku bawa pulang dua pepaya lalu ikut makan siang. Beramah tamah, makan nasi, minum es, dan ngemil kerupuk, lalu pamit, pulang, dan berterima kasih.
Pengendalian Hama Penyakit
Hama penyakit pada cabai bisa dilakukan sejak dini, misalnya saja dengan melakukan pemupukan berimbang, jangan terlalu banyak unsur N agar tanaman gak terlalu obes sehingga lemah dengan serangan OPT. Aplikasikan pula kapur pertanian sekalian dengan agens hayati macam Trichoderma untuk menekan perkembangan penyakit tular tanah.
Serangan hama cilik-cilik macam kutu, thrips, dan tungau dapat dilakukan dengan pembuatan pestisida nabati (daun pepaya, daun mimba, tapi bukan daun pintu) dan juga aplikasi kimia (kalau sudah parah dan tidak tertahankan) dengan bahan aktif abamektin.
Untuk serangan penyakit yang menjengkelkan, macam patek yang membuat buah jadi busuk dan gak bisa dijual, petani perlu melakukan sanitasi lingkungan, selain aplikasi pestisida kimia. Petani perlu membersihkan lahan dari buah yang sudah terserang jamur.
Buah busuk dapat menjadi sumber inokulum sehingga kejadian patek tidak bisa ditekan bahkan setelah aplikasi pestisida kimia. Pestisida kimia yang bisa diaplikasikan berbahan aktif mankozeb atau kalau sernagan masih lemah, bisa tuh aplikasi agens hayati saja terlebih dahulu.
Sudah lah, sekian dulu catatan dari lapangan edisi satu hari ini. Aku akan melanjutkan catatan dari lapangan untuk mengisi kuota menulis bulan Oktober.
Baca juga: Kisah Kideco Run dan Menemukan Kebahagiaan
0 Comments
Post a Comment