Sebagai seseorang yang pernah jadi maniak novel pada masanya, sudah pasti aku punya mimpi untuk punya ruang baca sendiri. sebuah ruang yang pribadi, dengan sentuhan warna-warna kalem, rak buku yang minimalis dengan sofa dan meja sudut untuk menaruh secangkir kopi panas. Aih, mantapnya.
Aku akan membeli karpet sederhana sebagai pencerah ruangan yang warnanya netral, kalau tidak hijau, mungkin warna merah muda sederhana. Lalu aku akan meletakkan sofa tunggal untukku duduk sendirian di dalam ruang baca. Sofa berwarna senada dengan warna dinding. Aku juga akan membeli gorden untuk menutup jendela mungil dekat rak buku. Gorden warna senada dengan karpet mungkin akan bagus.
Jangan lupa untuk meletakkan diffuser untuk menambah aroma relaksasi yang anteng dan nyaman untuk dihirup. Momen melelahkan mungkin akan langsung menguap begitu masuk kedalam ruang pribadi seperti ini, huah.
Apa lagi, ya? Ah, tambahkan speaker untuk melantangkan lagu instrumen yang santai. Aku juga cukup suka lagu-lagu dari Victor Lundberg yang I Fall, Don’t waste My Time, atau yang paling populer Deep and Abiding. Vibe-vibe lagu Gramedia yang bikin relax.
Hunting Buku
Selain ruangan, aku juga punya beberapa buku yang ingin aku miliki, misalnya buku versi cetak dari Prisoners of Geography, buku yang mengulas tentang alasan geografi bagi fenomena peperangan dan banyak kejadian lain di muka bumi ini. Namun, karena buku ini bahasa inggris, sudah tentu versi digitalnya di gugel pun masih mahal. Aku pun masih gagap membacanya, susah euy maksain diri baca buku bahasa inggris.
Selain itu, aku juga pengen baca buku Elizabeth Pisani yang judulnya Indonesia etc. Tapi ya sekali lagi, bukunya bahasa inggris, cepetan lah diterjemahkan.
Book Date
Wkwk, hal konyol yang aku ingin lakukan adalah book date alias kencan buku. Meskipun mas suami gak gitu suka baca, tapi dia selalu menyempatkan ke toko buku bareng aku tiap jalan ke mal. Dia juga selalu menyisihkan uang (di momen sulit dulu) untuk beliin aku buku tiap ulang tahun. Jadi ya, semoga nanti, ketika anak-anak sudah besar, aku bisa jalan sama suami untuk beli buku berdua, mencari toko buku indie yang kece badai di Jogja, atau sekedar foto berdua di depan gedung perpustakaan nasional di Jakarta.
Meski gak terlalu suka baca buku, dia tetap ketularan beli buku. Salah satu buku yang dia beli meski gak kebaca sampai selesai adalah Bung di Banda, kitab entah apa yang pokoknya tebal minta ampun, dan kisah tentang Buya Hamka.
Punya Toko Buku
Aku dengan sangat sadar dan paham bahwa jualan buku di negara gak suka baca macam konoha ini adalah keputusan yang sangat sembrono. Kalau memang keuntungan yang dicari, mending jualan gorengan aja, profitnya jauh lebih menjanjikan. Namun, yang namanya mimpi, jualan buku di toko mungil yang lucu dan cute selalu jadi khayalan manis.
Buku-buku yang unik, buku-buku lucu, buku-buku yang aku secara personal pilih sendiri untuk dipajang di toko buku milikku. Adakan kegiatan komunitas baca buku, diskusi, atau sekadar membaca bersama. Mimpi memang menyenangkan.
Rasa Suka Membaca Buku
Meskipun aku selalu mengaku suka baca, tapi belakangan ini rasanya struggle banget untuk bisa menyelesaikan satu buku. Baru nemu satu judul, baru baca 15 halaman, loncat ke judul lainnya.
Ini dia list buku yang sedang aku baca sekarang dan semuanya belum ada yang selesai: The 48 Law of Power by Robert Greene, Stolen Focus, Kepunahan Keenam, dan Babel by R.F Kuang. Banyak banget kan dan belum ada yang rampung. Ckckck, rasanya aku lagi susah untuk fokus, susah untuk diam membersamai satu judul sampai selesai.
Baca juga: Motivasi Orang Dewasa
0 Comments
Post a Comment