Perjalanan industri buku mulai dari hulu ke hilir, mulai dari penulis sampai ke tangan pembaca sebagai konsumen, merupakan jalanan yang kasar nan sepi.

Selama menggeluti hobi menulis, aku mendengar begitu banyak kerugian dari menulis dijadikan sumber penghasilan utama. Mulai dari curhatan orang tentang penulis yang gak sukses menjual buku yang diterbitkan sendiri atau tentang royalti buku yang tak bisa dibilang layak untuk membiayai kehidupan sehari-hari, sampai cerita tentang betapa sepinya industri buku di Indonesia.


industri buku

Aku yang menjadikan membaca dan menulis sebagai hobi tentu sedih melihat fenomena ini. Sampai-sampai ada istilah bahwa menjual gorengan jauh lebih menguntungkan dibandingkan menjual buku di Indonesia. Belum lagi perihal tentang penerbitan sampai toko buku yang terus memberi kabar buruk seperti penutupan karena minimnya konsumen sampai soal perjuangan toko buku indie yang kembang kempis dalam menjalankan bisnisnya.


Ada juga informasi yang umum beredar bahwa minat baca Indonesia paling rendah, yakni ranking 61 atau 62 gitu. Tapi, rasanya info ini hanya setengah benar. Kalau parameter minat baca rendah dari penjualan buku, rasanya hal ini tentu tidak bisa dibenarkan. Harga buku di Indonesia memang tergolong mahal. Buku masih termasuk kebutuhan mewah yang tentu saja cukup sulit dipenuhi para orangtua yang sebagian masih berjuang untuk sekadar memenuhi kebutuhan pokok seperti sandang, pangan, dan papan. Akan tetapi, cara untuk membaca gak melulu harus lewat beli buku, bisa pinjam teman, pinjam perpus, sampai beli buku bekas.


Karena minat baca yang rendah ini pula, industri penerbitan buku tidak menjadi lini bisnis yang menggiurkan. Memangnya siapa yang akan membeli buku di tengah krisis dan zaman yang serba sulit seperti ini? Lebih masuk akal kalau uangnya disimpan atau dipakai untuk beli beras.


Makanya, menjadi penulis buku mungkin akan jadi profesi yang benar-benar sulit, dari segi kepenulisan dan juga dari segi penjualan. Kalau profesi penulis seperti copywriting di perusahaan, atau jurnalis, atau penulis konten di sebuah website masih memiliki kemungkinan untuk memiliki pendapatan yang stabil karena sifatnya digaji sesuai porsi dari perusahaan yang menyewa jasa penulis. Kalau profesi penulis yang menggantungkan kehidupan dari penjualan buku aku rasa perlu perjuangan yang lebih kuat agar pendapatan bisa menutup biaya sehari-hari. 


Salah satu penulis sukses yang aku kenal dari jalur penjualan buku secara indie ada Azhar Nurun Ala. Beliau ini mulai menulis dari platform blog yang sempat tenar di kalangan mahasiswa tahun 2010-an (haha, ketahuan tuanya aku). Sekarang rasanya beliau sudah punya buku di penerbitan mayor. Mencontek kesuksesan beliau, rasanya memiliki penguasaan terhadap media sosial seperti blog, instagram, dan lainnya menjadi penting agar nama penulis sudah familiar di kalangan masyarakat sehingga ketika menjual buku indie banyak yang tertarik. 


Makanya, belakangan ini penerbit besar selalu melirik influencer, menilik penulis dari segi follower, malah tidak jarang menggaet penulis yang sudah punya nama besar di platform seperti Wattpad agar penjualan buku tidak zonk dan risiko gagalnya menjadi kecil. 


Meskipun menyedihkan tapi ini fakta yang terjadi sekarang. Penulis tidak cuma memiliki beban untuk menulis, tapi juga disyaratkan untuk memiliki basis penggemar agar bisa dilirik penerbit yang nafasnya sendiri juga sudah ngos-ngosan karena juga memiliki banyak beban di pundak. Ini pun kita belum bicara soal royalti yang kecil, pajak yang lumayan membebani,  sampai pembajakan buku yang masih dipandang sebelah mata. 


Fuah, perjalanan industri buku mulai dari hulu ke hilir, mulai dari penulis sampai ke tangan pembaca sebagai konsumen, merupakan jalanan yang kasar nan sepi.