Jalanan masih terasa sangat penuh serta sibuk di di pagi hari ini, motor dan mobil berlalu-lalang tiada henti. Di pinggir jalan, sebuah kios kecil, tua, dan lusuh, dengan papan bertuliskan Gado-Gado Madura sudah sibuk sejak pukul 07.00.

cerpen gado gado

Kendatipun belum bukan, seorang wanita tua terus beraktivitas menghaluskan kacang goreng dengan sebuah ulekan batu besar. Saat bumbu kacang sudah halus, wanita itu akan mencampurkannya dengan petis udang, air, dan juga gula serta garam. tidak hanya tangannya yang sibuk bergerak, mulutnya pun tidak berhenti komat-kamit tak jelas seiring dengan gerakan tangannya yang sibuk menghaluskan tumpukan kacang tanah yang sudah digoreng.  


Di ujung meja, sayuran rebus sudah tersusun rapi di dalam wadah tertutup. Di sampingnya ada tumpukan lontong di dalam gulungan daun pisang, tempe dan tahu goreng, serta setoples besar kerupuk warna-warni. Wanita tua itu berhenti mengulek ketika sesosok pria 30-an tahun berlari menuju ke arah warungnya. 


‘Mak, aku minta uang,”


Wanita tua yang dipanggil Mamak itu menjawab dengan lirih,”Mamik, Kau lihat sendiri lah ini, gado-gado Mamakmu ini belum ada yang lau satu bungkus pun. Bumbu kacang mamak pun belum selesai dihaluskan. Kau pula sudah minta uang pagi-pagi, untuk apa?”


Pria yang dipanggil Mamik itu menjawab dengan enggan, “Mirna mau sarapan salad dengan yogurt, Mak. Tak ada lah yogurt di rumah, Aku pun harus mencarikannya di minimarket.”


“Kasih tahu istrimu itu, tak usah mencari yang tidak ada di rumah. Sarapan saja dengan sayur yang ada. Kelakuannya macam orang kaya saja.”


Mamik terdiam kalau sudah Mamaknya mengeluh perihal kelakuan istrinya yang memang banyak menuntut itu. Mirna memang kadang keterlaluan, permintaanya seringkali absurd dan tak penting, namun sialnya membutuhkan uang yang tidak sedikit. Kalau tidak dituruti, Mirna pasti akan protes untuk pisah rumah dari Mamak. 


Pernah suatu hari, Mirna tiba-tiba punya ide untuk mengganti deterjen bubuk di rumah dengan laundry pod yang ia lihat di aplikasi TikTok. Mirna merasa bahwa Laundry pod adalah sebuah terobosan dan solusi agar penggunaan deterjen bubuk di rumah menjadi lebih hemat. Namun, tentu saja menjelaskan barang asing seperti laundry pod ke mamak akan butuh waktu dan tenaga. Ujung-ujungnya Mamak akan kesal dan Mamik kena semprot. Mirna yang tak mendapatkan laundry pod akan kembali rujuk dan minta pisah rumah dari Mamak.   


Bukannya Mamik tak mau pisah rumah, bukan pula Mamak yang melarang Mamik untuk pergi. Semua permasalahan ini adalah uang. Mamik tak punya cukup uang untuk mengontrak rumah dan membayar biaya hidup mereka sendiri karena harus menyisihkan uang untuk anak dan permintaan Mirna yang aneh-aneh. Kalau tinggal dengan Mamak, Mamik bisa hidup dengan gratis tanpa perlu mengeluarkan uang lebih untuk biaya rumah termasuk listrik, gas, dan air.  


Kali ini, peminatan Mirna yang aneh-aneh adalah tentang seputar diet. Kalau ditolak, pasti Mirna akan mengeluarkan alasan seperti tidak sayang istri atau tidak mendukung istri yang ingin tampil cantik depan suami. Padahal kan aku seperti ini untuk kamu juga, Mas. Alasan itu yang membuat Mamik sangat berat untuk menolak keinginan istrinya. Apalagi, ia tahu penderitaan Mirna saat hamil dan melahirkan anak pertama mereka. 


Akhirnya, dengan berat hati Mamik berusaha sekuat tenaga untuk bisa menyediakan biaya member fitness di kota, katering diet rendah kalori, serta sarapan salad yang menjadi kebutuhan harian Mirna. Mamak sebenarnya sudah mulai mengelus dada memupuk kesabarannya yang sepertinya akan sampai di ujung puncaknya. Aktivitas menantunya itu hanya berputar di dirinya sendiri, kalau tidak mengurus anak ya berarti sedang berolahraga di tempat fitness. Mamak sangat berharap bahwa kehadiran menantu dan anaknya yang menumpang di rumahnya bisa sedikit meringankan beban bersih-bersih yang cukup menguras tenaga. Mamak sudah tidak memiliki stamina yang penuh seperti waktu muda dulu. Namun, apa daya, bukannya berkurang beban Mamak justru bertambah karena kini harus bersih-bersih rumah sepulang jualan gado-gado sambil mengurus cucu. 


Persiapan jualan gado-gado pun kadang jadi tertunda karena harus menunggu Mirna pulang dari tempat fitness. Mamak ingin melakukan kegiatan membersihkan sayuran, menggoreng kacang tanah, atau sekadar mempersiapkan stok petis udang, gula merah, cabai, dan yang lainnya jadi harus menunggu cucunya tidur atau menunggu menantunya pulang ke rumah. Mamak rasanya ingin mengamuk setiap hari. Tentu saja Mamik-lah yang menjadi sasaran amarah Mamak setiap hari.


Biar begitu, Mamak paham bahwa sangat tidak nyaman untuk tinggal bersama mertua. mamak pun pernah seperti itu dahulu. Harus banyak-banyak mengalah dan mengaku salah walau rasanya sepet di hati. Makanya, Mamak banyak menahan diri ketika menghadapi Mirna dan memilih menegur anaknya sendiri. Ketika kekesalan Mamak sudah di tumpah-tumpah, pasti Mamak akan menagih uang patungan biaya rumah pada Mamik. Namun, sang anak yang sudah terlanjur sayang setengah mati pada istrinya hanya bisa mengeluarkan alasan dan janji palsu bahwa akan menyisihkan uang untuk membantu biaya hidup di rumah. 


“Kenapa kamu harus membayar mahal untuk sarapan sayuran rebus yang isinya sama saja seperti sayuran rebus yang Mamak buat untuk jualan gado-gado?” ini adalah salah satu pertanyaan Mamak yang sering diungkapkan pada Mamik. Sang suami dan anak yang serba salah ini tentu tak bisa menjawab dan memilih diam agar kekesalan Mamak bisa segera berkurang.  


Siang itu, Mamak sedang menjaga sang bayi sambil bersih-bersih rumah. Mamik sedang narik ojek dan Mirna sedang berolahraga di Fitness favoritnya. Saat sedang menyuapi cucu semata wayangnya, Mamak mendengar ada seorang pria paruh baya yang mengetuk pintu rumah yang memang dibiarkan terbuka. 


“Permisi, Bu. Apakah ada yang bernama Mirna?” tanya pria paruh baya itu.


“Ya, benar. Menantu saya bernama Mirna. Ada apa ya pak?”


Pria paruh baya yang terlihat bugar itu mengenalkan diri sebagai seorang seorang debt collector. menurutnya Mirna memiliki utang berjangka di aplikasi online tempat ia bekerja dan belum membayar angsuran pertama. Mamak jelas terkejut dan merasa sangat kecewa. Bisa-bisanya menantunya berutang dalam kondisi seperti ini. Mamak merasa kesal setengah mati. Ia mengambil uang dari lemarinya yang merupakan hasil penjualan gado-gado hari ini. Lalu, ia membayarkan tagihan itu dan tidak lupa untuk meminta bukti pembayaran. Mamak menunggu kepulangan Mirna dalam keheningan. 


Mirna pulang dan masuk ke dalam rumah sunyi tanpa adanya keributan dari buah hatinya. “Mak, di mana si tole?” pertanyaan pertama Mirna setelah masuk ke dalam rumah. Mamak segera duduk rapi di kursi tamu dan menjawab, “Tole sedang tidur. Mamak mau bicara dulu.” Dengan isyarat tangan, Mamak menyuruh Mirna untuk duduk di depannya. Perasaan Mirna jadi tak enak, pasti ini persoalan serius.


Mamak mengeluarkan bukti pembayaran utang Mirna. Jelas perempuan itu terkejut, bagaimana ini? Mirna akhirnya langsung meminta maaf tanpa perlu mengelak karena bukti sudah ada di depan mata.


“Maafkan aku Mak karena berutang tanpa memberitahu mamak.”


Mamak mendesah kecewa, “Memangnya kondisi apa yang memaksamu untuk berutang Mirna?”


Mirna terdiam karena ia tahu bahwa ia tidak memiliki alasan yang tepat. Momen keheningan yang berlangsung terasa menyesakkan. Mamak mengulangi pertanyaannya, “Kondisi apa yang memaksamu untuk berutang, Nak?”


Mamak ikut terdiam menunggu jawaban Mirna. Lima menit terasa sepuluh menit. Sepuluh menit terasa seperti setengah jam, setengah jam terasa seperti selamanya. Mamak lelah menunggu dan bangkit dari duduknya. Ia menuju dapur dan membersihkan sayur-sayuran untuk bahan jualan gado-gado. 


Baca juga: Extra Safe [Cerpen]